Rindu berjumpa, rindu suara..
Rindu yang kini hanya bisa kuungkapkan dengan tulisan dan sedikit terobati dengan melihat foto-fotomu..
Sabtu, 23 April 2011 kemarin, saya kehilangan salah satu orang yang saya sayangi, salah satu panutan saya dalam menjalani kehidupan, salah satu lelaki yang paling hebat yang pernah saya temui.
Mbah Kakung meninggal diusianya yang ke-74 tahun. Semua begitu mendadak, hari itu subuh dini hari saya mendengar bahwa Mbah Kakung dibawa di UGD RSUD Purworejo, hari-hari sebelumnya memang mbah mengeluhkan kepalanya pusing dan flu, dan Sabtu itu memang saya dan bulik (tante) berencana untuk kesana menengok mbah. Namun takdir berkata lain, pukul 08.00 saya diberitahu oleh saudara kalau mbah kakung masuk ICU karena stroke, dan tensi darahnya cukup tinggi, sekitar 200. Mendengar kata stroke, ingatan saya kembali beberapa tahun yang lalu, saat Pakde terkena stroke dan meninggal di usianya yang ke-50 tahun. Saya takut dan ngeri. Kabar baik datang sekitar pukul 09.00, sepupu saya mengabarkan kalau mbah sudah menggerak-gerakkan kaki. Alhamdullilah. Segera saya mengabari ibu yang sedang berada di Jakarta. Semua keluarga saya (Bapak, Ibu, dan adik-adik) sedang berada di Jakarta pada saat itu, karena sepupu saya menikah.
Tapi, takdir berkendak lain, pukul 10.00 saya dikabari kalau mbah sudah tidak ada. Lemas rasanya mendengar hal itu, dan tanpa terasa air mata ini pun turun. Saya langsung mengemasi barang sambil menunggu kehadiran bulik untuk pergi ke Purworejo.
Sesampainya di Purworejo, saya melihat ada jenazah di ruang tamu, dan air mata ini turun semakin derasnya. Saya tidak kuasa untuk membukanya, namun rasanya ada yang kurang kalau tidak melihatnya langsung. Ternyata memang iya.. Masih sulit rasanya untuk percaya.
Kesedihan saya cukup terobati melihat banyaknya pelayat yang tiba, mbah memang orang baik, sampai di akhir hayatnya pun banyak orang yang ikut mendoakan.
Sekitar pukul 17.00 tepat saat jenazah akan disemayamkan ibu, pakde, tante dan om saya tiba. Mereka berangkat dari Jakarta dengan menggunakan pesawat, ibu masih lengkap mengenakan baju kondangan dan highheels-nya, hanya membawa tas kecil berisikan dompet. Kami mengantar mbah menuju peristirahatan terakhir, hari sudah hampir magrib saat itu.
Kembali ke rumah, tak sanggup rasanya melihat kamar mbah kakung. Di meja makan juga masih ada teh dan pisang untuk mbah kakung yang belum tersentuh. Memasuki kamar mbah kakung disana banyak terpampang foto mbah putri.. Saya rindu kedua orang hebat itu.
Saya mencoba melihat-lihat tumpukan buku-buku disana. Ada sebuah file, berisi surat-surat mbah kakung dan mbah putri, surat mbah kakung kepada anak-anaknya, dan juga surat saya pada mbah kakung. Masih disimpan dengan rapi ternyata..
Ternyata bagi mbah kakung, itulah hartanya yang paling berharga. Semua kenangan-kenangan indah saat semuanya masih seperti dahulu.
Selamat jalan mbah kakung, pasti mbah bahagia disana.. Bisa bertemu dengan bidadari paling cantik sedunia, yaitu mbah putri..
No comments:
Post a Comment